THE TRUE STORY OF ME

15 September 2010

Kehidupan  laiknya sebuah perjalanan panjang yang senantiasa bergumul dengan kerikil-kerikil tajam penghalang serta medan yang sulit untuk dilalui. Hidup adalah cobaan,dan ketika kita lulus dari satu cobaan kita tidak akan terhindar dari cobaan selanjutnya. Seseorang yang sukses dalam hidupnya ialah seseorang yang terampil menghadapi cobaan demi cobaan yang menderanya. Untuk menjadi seperti itu bukanlah hal yang mudah,semudah diucapkan dan dituliskan. Saya yakin teman-teman yang membaca tulisan saya ini pernah mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya,begitupun dengan saya. Saya merasa telah banyak hal-hal sulit yang saya lalui. Hal-hal yang dapat saya selesaikan dengan baik maupun yang hanya dapat saya selesaikan dengan melihat dari kejauhan dan berusaha untuk tegar walau sambil berurai air mata. Saya percaya semua itu tak akan dapat dilalui anak seumuran saya kecuali tanpa Allah semata.

Ada satu kisah dalam hidup saya yang membuat saya benar-benar takut kehilangan. Ketika itu saya berumur 10 tahun. Siang itu,seusai sekolah saya dan adik saya yang berumur 7 tahun sedang bermain di rumah. Ibu kami sedang mengajar di SMP yang letaknya jauh dari rumah,sedangkan ayah sedang ada urusan di luar kota. Hari itu saya ada jadwal les bahasa inggris. Karena ayah maupun ibu belum pulang,maka saya menelepon salah satu dari mereka untuk pamit. Sejak kecil,saya memang dibiasakan pamit serta cium tangan sebelum pergi keluar rumah. Saya pun menelepon ke telepon seluler ayah. Tersambung,namun tidak ada jawaban. Kemudian saya mengulangi panggilan sampai beberapa kali,hasilnya nihil. Saya berpikir mungkin ayah sedang dalam perjalanan pulang. Namun,hati kecil saya berkata bahwa ada sesuatu yang buruk yang sedang terjadi. Akhirnya saya berinisiatif untuk menghubungi ibu. Hasilnya sama,lagi-lagi tidak ada jawaban.

Karena perasaan cemas dan gelisah sudah memenuhi pikiran,saya memutuskan untuk bolos les. Beberapa menit kemudian ada panggilan masuk di telepon rumah. Saya berharap itu salah satu dari kedua orangtua saya. Ternyata yang menelepon adalah wanita asing yang menanyakan apakah benar teleponnya tersambung dengan rumah ayah,ia menyebutkan nama ayah saya. Saya membenarkan,kemudian wanita itu berkata bahwa ia menghubungi nomor telepon rumah saya karena ada panggilan masuk di ponsel ayah. Ia mengatakan bahwa ayah sedang berada di UGD dan ia adalah perawat rumah sakit umum di kota tempat saya tinggal. Saya diperintahkan untuk segera menghubungi ibu atau kerabat.

Di tengah-tengah kebingungan saya,ibu pulang pada waktu yang tepat. Dengan segera sya menyongsongnya. Saya menuturkan informasi yang diberikan perawat tadi dengan terbata-bata. Sejenak ibu kebingungan,namun dengan segera beliau menangkap maksud perkataan saya. Ibu menghubungi ponsel ayah untuk memastikan,kemudian berangkat menuju rumah sakit yang dimaksud. Saya hanya berdiri kebingungan menatap kepergian ibu,masih tak mengerti apa yang terjadi. Saya hanya tahu bahwa ayah tidak dalam keadaan baik.

Setengah jam kemudian,seseorang yang diutus ibu datang untuk menjemput saya dan adik saya. Beliau adalah salah seorang guru yang mengajar di sekolah yang didirikan oleh ayah bersama teman-temannya. Sesampainya di rumah sakit saya tidak diizinkan melihat ayah. Alih-alih ke UGD saya dan adik malah diajak makan siang. Beberapa menit setelah kami usai makan siang,beberapa kerabat saya datang. Bibi saya mengatakan bahwa ayah akan dibawa ke Solo mengingat peralatan medis rumah sakit yang terbatas. Ayah dilarikan ke RS Dr.Oen dengan ambulans,bersama ibu di dalamnya. Sedangkan saya dan adik mengikuti dengan mobil pribadi Bibi.

Di sana saya berkesempatan untuk melihat ayah. Saya tertegun melihat tubuh ayah berlumuran darah,terutama bagian kepala. Dahi ayah yang sobek dan menganga sempat dijahit asal-asalan sebelum dilarikan ke  Solo. Pada saat itu,ayah dalam keadaan tidak sadarkan diri. Ibu saya menangis dan memeluk saya. Setelah itu,ayah segera ditangani dokter di ruang operasi. Usai operasi,ayah dirawat di ruang ICCU,beliau masih belum sadar. Menurut dokter,ayah terkena gegar otak kecil yang disebabkan oleh benturan di kepala. Baru saya ketahui ternyata ayah mengalami kecelakaan motor sepulang dari tugas luar kota.

Ayah saya sempat koma beberapa hari. Ketika sadar pun,beliau belum sepenuhnya sadar. Ayah saya pulih dengan waktu yang lambat,mengingat usia beliau yang menjelang uzur. Saat itu ayah berusia 60 tahun. Ayah saya mengalami kekacauan ingatan,beliau sering salah menyebutkan arah,mengingat nama orang maupun nama barang. Bahkan ayah tidak ingat sama sekali orang-orang yang membesuknya,walau saat itu beliau dalam keadaan sadar. Tubuh saya serasa dibebani sesuatu dengan berat berton-ton melihat kondisi ayah. Saya tak bias berbuat banyak selain berusaha mandiri dan tidak merepotkan ibu yang akhir-akhir ini terlihat kurus. Lingkaran hitam di sekitar matanya pun terlihat jelas menandakan ibu kurang tidur dan kelelahan.

Tak terasa,waktu pun berlalu begitu cepatnya. Meninggalkan segores luka dalam berupa trauma dalam hidup saya, trauma yang saya implementasikan dengan ketakutan saya untuk mengendarai motor.  Namun saya tahu,saya tak boleh menyerah begitu saja. Semua orang memilki kisah sedih,dan kisah-kisah seperti itu yang memupuk kepribadian menjadi seseorang yang lebih tangguh dalam menghadapi kerasnya kehidupan. Begitu pula dengan kisah saya,yang telah membuat saya belajar untuk senantiasa mempersembahkan yang tebaik kepada orang-orang tercinta. Saya bersyukur sampai sekarang ayah dan ibu masih dapat menyaksikan hari-hari bahagia dalam hidup saya,dan saya tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu untuk membanggakan mereka.

Filed in Academic at 10:06 pm

no comments

SEMANGAT SEORANG HELEN KELLER

Cerita yang saya tulis ini terinspirasi dari kegigihan dan semangat seorang wanita yang mana ia tidak memiliki apa yang kita miliki. Ia tidak memiliki sesuatu yang bahkan sering tidak kita syukuri,yang sering kita sia-siakan. Wanita tersebut ialah Helen Keller,seorang penyandang cacat berat,buta sekaligus tuli sejak balita. Helen Keller lahir di Tuscumbia,Alabama pada tanggal 27 Juni 1880 dan meninggal  tanggal  1 Juni 1968 pada umur 87 tahun. Pada usia 19 bulan,ia diserang penyakit dengan gejala demam dan panas tinggi hingga mengakibatkan kebutaan dan ketulian. Cacat yang dideritanya  tidak menghalanginya untuk senantiasa beraktivitas layaknya orang normal. Helen Keller bukanlah orang yang merasa dirinya rendah hanya karena ketaksempurnaan fisik,ia adalah orang yang senantiasa bekerja keras dan pantang menyerah.Untuk menjadi seseorang dengan pendirian seperti itu tentu tak lepas dari dukungan orang-orang terdekat. Seseorang yang berjasa bagi Helen Keller adalah Anne Sullivan. Anne adalah seorang guru yang membukakan mata Helen terhadap dunia luar,dan menunjukkan kepada Helen betapa berwarnanya hidup meski ia seorang buta-tuli. Anne menunjukkan itu semua melalui tulisan. Pada usia 20 tahun,Helen Keller kuliah di Radcliffe College (cabang universitas Harvard) khusus wanita,ia lulus dengan predikat cum laude. Semasa hidupnya Helen Keller mengabdikan hidupnya pada masyarakat melalui artikel,kegiatan-kegiatan sosial,dan melalui pidato-pidatonya.

Melalui biografi singkat tentang Helen Keller ini, yang saya harapkan adalah introspeksi terhadap diri kita. Di luar sana banyak ‘Helen Keller’ lain yang tidak seberuntung kita,namun tak sedikit dari mereka yang menorehkan sejarah melalui prestasi-prestasi gemilang. Jadi,untuk kita yang dianugerahi kesempurnaan,kita wajib bersyukur dan memanfaatkan kelebihan yang diberikan Tuhan untuk hal-hal yang positif dan bermanfaat bagi khalayak. Semoga cerita ini dapat menginspirasi serta memotivasi teman-teman pembaca dengan hal-hal positif.

Untuk orang-orang yang mendewakan kesempurnaan yang kalian miliki,janganlah lupa. . .dunia ini fana,bersifat sementara. . .tak ada yang dapat dibanggakan dengan sesuatu yang sementara. Dan,untuk orang-orang yang merasa dirinya tak beruntung,kesempurnaan bukanlah awal dan akhir dari segalanya,karena di hadapan Tuhan,semua makhluk dipandang sama di hadapan-Nya. Jabatan, kekayaan, kecerdasaan, kesempurnaan, tak ada yang bisa dijadikan pembanding, karena apapun kelebihannya tak ada yang bisa menandingi kelebihan Tuhan. Hanya ada satu hal yang dapat dijadikan pembanding, yaitu ketakwaan.

Written by : esatri rosetaati @ 9:04 PM. August,2nd,2010

Filed in Academic at 10:02 pm

no comments